Pertahankan Batu Prasasti Ikon Desa

Tuban - Pemerintah Desa (Pemdes) Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menegaskan, sampai kapanpun akan mempertahankan batu prasasti di wilayahnya sebagai ikon desa. Meskipun Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto telah mencatat dan memberi nomor register, namun pihaknya tidak mengizinkan siapapun untuk membawanya.

"Batu ini sangat berharga bagi desa dan masyarakat setempat," terang Kepala Desa (Kades) Prunggahan Wetan, Hari Winarko, kepada

suarabanyuurip.com, ketika ditemui di pekarangan warga setempat, Senin (17/10/2016).

Batu prasasti yang usianya disinyalir setara Kabupaten Tuban ini, diyakini memiliki kekuatan magic. Setahun lalu Pemdes bersama masyarakat sekitar berniat menggesernya, namun gagal.

Saat itu tujuh orang termasuk pemilik lahan Pasiman (53) hanya mampu menganjalnya dengan batu kumbung. Diluar dugaan pemilik lahan didatangi pria yang tidak dikenal, dan harimau putih.

"Keesokan harinya pukul 05:00 WIB Pasiman datang kerumah minta izin batu sedia kala," jelasnya.

Mendengar cerita Pasiman pihaknya tidak dapat melarangnya, sebab enggan menanggung resiko yang dapat menganggu ketertiban masyarakat setempat. Tepat pada pukul 12:00 WIB, Pasiman bersama istrinya ternyata mampu mengembalikan sperti semula.

Padahal upaya tujuh orang sebelumnya tak membuahkan hasil. Hal aneh juga terjadi ketika batu dijatuhkan, suaranya bukan menyerupai batu namun seperti besi yang jatuh di ubin.

"Ini yang membuat Pemdes yakin batu prasasti ini memilik teka-teki yang harus dipecahkan," imbuhnya.

Tepat hari Minggu (16/10) kemarin, beberapa orang yang mengatasnamakan Ronggolawe Creative Club (RCC) berupaya membalikan batu. Meski sudah mengadakan ritual, upayanya masih gagal. Baru mbah Pasiman ikut andil, akhirnya batu dapat dibalikan. Tanpa disangka ada sebuah pahatan aksara jawa di batu tersebut

Lantaran permukaan batu sudah banyak yang korosi, akhirnya Pemdes berkomunikasi dengan BPCB Mojokerto untuk menerjemahkannya.

Sementara, Pasiman (53) juga penasaran dengan maksud aksara jawa kuno yang tertulis di permukaan batu prasasti. Sejak dulu dirinya sudah dipesan oleh ibunya Mbah Ropyoh untuk tidak merusak batu tersebut.

"Sejak tahun 1970 saya dipesan oleh ibu untuk tidak menginjak, atupun merusakanya," ujarnya menirukan pesan ibu nya.

Terpisah, Kabid Seni dan Kebudayaan Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Tuban, Sunaryo, belum dapat dimintai keterangan. Pesan singkat dan dua kali panggilan sejak pukul 14:16 WIB tak mendapat respon. (Aim)

Sumber : http://www.suarabanyuurip.com

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)