Menapak Jejak Ki Ageng Papringan, Sang Pendiri Kadipaten Tuban

kabartuban.com – Kabupaten Tuban yang saat ini disebut sebagai Bumi Wali, memiliki kenikmatan sejarah yang seakan tidak ada habisnya untuk diseduh. Hampir di setiap jengkal bumi wilayah yang pernah tercatat sebagai pilar utama kerajaan Majapahit ini, tersimpan sejarah lampau yang penuh keemasan.

Dalam berbagai sumber, temasuk dalam buku besar Babat Tanah Jawi, keberadaan Kabupaten Tuban identik dengan kisah seorang tokoh besar bernama Raden Arya (RA) Dandang Wacana yang mendapatkan wangsit untuk membuka alas papringan (hutan bambu) sebagai pemukiman.

Kedatangan RA. Dandang Wacana yang tidak lain adalah putra mahkota RA. Dandang Miring, Adipati Lumajang tersebut disambut dengan cuaca kemarau dan membuat alas papringan yang sejak semula tandus menjadi cukup menyulitkan. Dalam kondisi tersebut dan dengan seijin Tuhan Yang Maha Esa, RA. Dandang Wacana megeluarkan kesaktiannya, sebatang bambu dicabut dan seketika keluar airnya (jawa ; metu banyu). Kisah itulah yang menjadi dasar sebagian kalangan masyarakat Tuban yang percaya sebutan Tuban berasal dari kata (metu banyu).

Berdasarkan hasil penelusuran tim ekspedisi Bumi Wali menyebutkan, keluarnya air yang dimaksud dalam kisah seorang RA. Dandang Wacana itu sekarang menjadi sendang di area wisata pemandian Bektiharjo atau juga disebut sebagai Sendang Widodaren.

Gerbang Makam RA. Dandang Wacana atau Ki Ageng Papringan
Gerbang Makam RA. Dandang Wacana atau Ki Ageng Papringan

“Makam RA. Dandang Wacana ada di Dusun Banaran, Desa Prunggahan Wetan, dan untuk menuju makam tersebut, jika kita dari kota Tuban berjarak sekitar 5 km dan kita akan melewati satu jalan yang disebut Jl. Papringan,” kata Dwi Riyanto, saat melakukan perjalanan bersama wartawan media ini, Minggu (03/01/2016).

Pantauan kabartuban.com, Jl. Papringan merupakan jalan kecil menuju Desa Bekti harjo. Melewati jalan tersebut kita akan sampai pada makam kramat RA. Dandang Wacana yang berada di pinggir sungai. Makam kakek RA. Ronggolawe (jalur nasab dari ibunya, Nyai Ageng Lanang Jaya yang merupakan putri dari RA. Dandang Wacana) tersebut terlihat cukup asri dan bersih. Bangunannya pun sudah cukup bagus.

nameboard makam“Insya Allah di sini yang dimaksud alas papringan dalam sejumlah sumber sejarah tersebut. Makanya itu ada jalan papringan, makam RA. Dandang Wacana di sini dan tidak jauh dari sini ada sendang Widodaren (sekarang, tempat pemandian) di Bektiharjo yang konon merupakan sumber air yang dimunculkan RA. Dandang Wacana dan menjadi salah satu sebab penyebutan nama Tuban,” Kata Nursyam, seorang tokoh masyarakat yang sedang melakukan perjalanan napak tilas di makam seluas 100 meter tersebut.

Lebih lanjut Nursyam mengatakan, dalam buku Babat Tanah Jawi, RA. Dandang Wacana ini juga dikenal dengan sebutan Ki Ageng Papringan. Setelah membuka alas papringan dan airnya melimpah, kemudian daerah ini dijadikan Kadipaten Tuban dengan wilayah yang terus meluas dan Ki Ageng Papringan menjadi Adipati yang pertama pada kisaran tahun 1264 s.d 1282 M.

Ki Ageng Papringan tidak pernah kembali ke tempat kelahirannya di Lumajang dan juga tidak mau meneruskan kekuasaan ayahandanya sebagai Adipati Lumajang. Ki Ageng Papringan sangat mencintai Tuban dan menjadikannya wilayah Kadipaten tersendiri, yang langsung dipimpin olehnya.

Sementara itu, dalam buku 700 Tahun Kabupaten Tuban menyebutkan, RA. Dandang Wacana kemudian membuat pemukiman di alas papringan yang telah dibabat (dibuka) tersebut. Kemudian banyak pendatang yang mengikuti RA. Dandang Wacana untuk tinggal di Tuban.

Makam RA. Dandang Wacana / Ki Ageng Papringan yang di depannya mengalir sungai yang bening
Makam RA. Dandang Wacana / Ki Ageng Papringan yang di depannya mengalir sungai yang bening

Menurut R. Soeparmo dalam bukunya 700 Tahun Kabupaten Tuban tersebut, pusat pemerintahan Kadipaten Tuban pada masa pemerintahan Ki Ageng Papringan berada di wilayah Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban. (im/riz)

Sumber : http://kabartuban.com

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)